Senin, 16 Maret 2015


Dewasa ini masih banyak dimasyarakat yang memasungkan keluarganya karena adanya gangguan jiwa.
Padahal seyogyanya pada orang yang terkena gangguan jiwa jika dipasung maka akan memperberat panyakit yang diderita. Bagaimana tidak, gangguan jiwa bersifat mempengaruhi gangguan pola berpikir, jika gangguan itu timbul kemudian mulai mempengaruhi orang yang terkena gangguan jiwa pada saat dipasung maka akan semakin parah, dikarenakan pada saat dipasung tidak bisa mengalihkan adanya gangguan yang diterimanya. Adanya hanya bisa untuk mengkuti gangguan persepsi ataupun sensori yang diterimanya.

Gangguan jiwa pada umumnya dikarenakan adanya suatu perubahan ataupun adanya gangguan persepsi dan sensori yang timbul, dan lama-kelamaan bisa menjadikan orang terkena gangguan jiwa mengikuti apa yang dirasakan ataupun yang didengar. Gangguan jiwa yang paling sering diderita adalah halusinasi,dimana sifat dari halusinasi itu ada yag menyenangkan,menydihkan,menakutkan,dan bisa juga berupa sentuhan atau rangsangan pada indera perasa.

Pada orang yang halusinasi jika dia dipasung maka halusinasi yang dirasakan akan semakin kuat,dikarenakan dia tidak bisa melawan ataupun mengalihkan gangguan yang didapat.
Apabila halusinasi itu berbentuk menyenangkan maka dia akan tertawa,senyum-senyum sendiri, ngomong sendiri.
Apabila bentuknya menyeramkan maka akan teriak-teriak,minta tolong, tampak ketakutan,menutup mata,gelisah tidak karuan.

Padahal prinsip dari penanganan jiwa yang secara umum saja, jika ada keluarga atau orang yang mengalami jiwa TIDAK BOLEH untuk DIPASUNGKAN,karena akan memperparah keadaan jiwanya yang mengalami gangguan.

Adapun cara-cara penerapan yang bisa keluarga lakukan untuk orang yang mengalami gangguan jiwa adalah:
1. Berikan perhatian yang cukup
2. Anjurkan untuk berkegiatan, jika belum bisa dibimbing terlebih dahulu
3. jauhkan faktor yang membuat tekanan dalam jiwanya.
4. Selalu dengarkan dengan baik jika sedang berbicara.
5. Selalu nasehati bahwa yang dilakukan adalah hal yang salah dan dilihat orang lain itu tampak aneh
6. Perlihatkan bahwa anda adalah orang yang bisa dipercaya
7. Jika tampak parah lebih baik dibawa kedokter ataupun ahli kesehatan jiwa
8. Jangan lakukan PEMASUNGAN
9. Jika mengamuk jauhkan dari benda tajam dan yang bisa membahayakan dirinya maupun orang lain
10. Minta bantuan pada orang yang lebih tahu masalah kesehatan jiwa untuk penanganan lebih lanjut

Ini merupan beberapa hal yang bisa saya sharing mengenai gangguan jiwa Yang saya tahu.
thanks for reading.

Rabu, 11 Maret 2015

Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara internal atau eksternal) disertai dengan suatu pengurangan, berlebih - lebihan, distorsi atau kelainan berespon terhadap semua stimulus (Towsend, 1998).
Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu pencerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar (Maramis, 1998).
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik. Individu yang mengalami halusinasi seringkali beranggapan sumber atau penyebab halusinasi itu berasal dari lingkungannya, padahal rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah, rasa sepi, marah, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang diicintai, tidak dapat mengendalikan dorongan ego, pikiran dan perasaannya sendiri. (Budi Anna Keliat, 1999) Jadi dapat disimpulkan bahwa halusinasi adalah gangguan persepsi tanpa ada rangsangan dari luar.
Tanda dan Gejala: Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar atau dirasakan). Berikut ini merupakan gejala klinis  berdasarkan halusinasi:
1. Tahap 1: halusinasi bersifat tidak menyenangkan Gejala klinis :
§ Menyeriangai/tertawa tidak sesuai
§ Menggerakkan bibir tanpa bicara
§ Gerakan mata cepat § Bicara lambat
§ Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
2. Tahap 2: halusinasi bersifat menjijikkan Gejala klinis :
§ Cemas
§ Konsentrasi menurun
§ Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
3. Tahap 3: halusinasi bersifat mengendalikan Gejala klinis :
§ Cenderung mengikuti halusinasi
§ Kesulitan berhubungan dengan orang lain
§ Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
§ Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk)
4. Tahap 4: halusinasi bersifat menaklukkan Gejala klinis :
§ Pasien mengikuti halusinasi
§ Tidak mampu mengendalikan diri
§ Tidak mamapu mengikuti perintah nyata
§ Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan (Budi Anna Keliat, 1999)  
2. Penyebab Yang menjadi penyebab atau sebagai triger munculnya halusinasi antara lain klien menarik diri dan harga diri rendah. Akibat rendah diri dan kurangnya keterampilan berhubungan sosial klien menjadi menarik diri dari lingkungan. Dampak selanjutnya klien akan lebih terfokus pada dirinya. Stimulus internal menjadi lebih dominan dibandingkan stimulus eksternal. Klien lama kelamaan kehilangan kemampuan membedakan stimulus internal dengan stumulus eksternal. Kondisi ini memicu terjadinya halusinasi.
Tanda dan gejalanya dilihat dari beberapa aspek, yaitu :
a. Aspek fisik :
Ä Makan dan minum kurang
Ä Tidur kurang atau terganggu
Ä Penampilan diri kurang
Ä Keberanian kurang
b. Aspek emosi :
Ä Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil
Ä Merasa malu, bersalah
Ä Mudah panik dan tiba-tiba marah
c. Aspek sosial
Ä Duduk menyendiri
Ä Selalu tunduk
Ä Tampak melamun
Ä Tidak peduli lingkungan
Ä Menghindar dari orang lain
Ä Tergantung dari orang lain
d. Aspek intelektual
Ä Putus asa
Ä Merasa sendiri, tidak ada sokongan
Ä Kurang percaya diri  
3. Akibat Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak lingkungan (risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan). Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai fase ke IV, di mana klien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Klien benar-benar kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi ini klien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain bahkan merusak lingkungan. Tanda dan gejala:
▪ Muka merah
▪ Pandangan tajam
▪ Otot tegang
▪ Nada suara tinggi
▪ Berdebat
▪ Sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.

Minggu, 08 Maret 2015

Gangguan Mental

Gangguan mental atau penyakit kejiwaan adalah pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia.[1] Gangguan tersebut didefinisikan sebagai kombinasi afektif, perilaku, komponen kognitif atau persepsi yang berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerah otak atau sistem saraf yang menjalankan fungsi sosial manusia. Penemuan dan pengetahuan tentang kondisi kesehatan mental telah berubah sepanjang perubahan waktu dan perubahan budaya, dan saat ini masih terdapat perbdaan tentang definisi, penilaan dan klasifikasi, meskipun kriteria pedoman standar telah digunakan secara luas. Lebih dari sepertiga orang di sebagian besar negara-negara melaporkan masalah pada satu waktu pada hidup mereka yang memenuhi kriteria salah satu atau beberapa tipe umum dari kelainan mental.
Wikipedia.com
Ini merupakan denah lokasi menuju panti rehabilitasi BHAKTI DAYA INSANI pasar KEMIS, Tangerang.
Bisa melewati Tol Cikupa ataupun Via Jl.Raya Cadas. Lebih tepatnya terletak di Jalan Veteran Rt 04 Rw 05 Depan Masjid Al- Muhajirin, Kp. Kebon kelapa, Kel. Pasar Kemis, Tangerang, Banten.